Kenali Ciri-Ciri Orang yang Inisiatif

Siapa saja sebenarnya bisa memiliki sifat inisiatif, apa lagi dalam situasi yang mengharuskan mereka untuk berbuat sesuatu dalam kondisi genting.

Kenali Ciri-Ciri Orang yang Inisiatif

Berinisiatif berasal dari kata inisiatif, menurut kamus inisiatif berarti usaha sendiri, langkah awal, ide baru. Berinisiatif berarti mengembangkan dan memberdayakan sector kreatifitas daya pikir manusia, untuk merencanakan idea tau buah pikiran menjadi konsep yang baru.

Ciri-Ciri Orang yang Inisiatif Yang Bisa Dikenali

Ciri-Ciri Orang yang Inisiatif

Secara naluri, kita menyukai orang-orang yang punya inisiatif.

Atasan menyukai bawahan yang punya inisiatif.
Bawahan menyukai atasan yang banyak inisiatif.
Kita menyukai rekan kerja yang punya inisiatif.

Apa itu inisiatif? Kalau melihat konsep pengembangan kompetensi, ternyata inisiatif itu termasuk kompetensi mental (Soft Competency). Artinya, ia bukan bawaan. Ia adalah kemampuan tertentu yang dikembangkan seseorang. Tentunya dengan memiliki Inisiatif tinggi, apapun yang anda lakukan misalnya bertaruh judi Casino Sbobet online indonesia pun akan terjalankan secara maksimal.

Setiap orang punya skala / tingkatan inisiatif yang berbeda-beda, tergantung bagaimana orang itu mengembangkannya.

  1. Skala bawah, adalah orang-orang yang model kerjanya menunggu perintah dari atasan atau hanya sebatas memenuhi job desk secara minimalis. Misalnya saja kita diterima sebagai receptionist tapi yang kita lakukan hanya sebatas mencatat telepon keluar-masuk. Ciri lainnya adalah orang yang model kerjanya butuh pengawasan serius dan terus-menerus. Jika pengawasan tidak ada pasti akan ada penyimpangan atau pelanggaran.
  2. Skala menengah, adalah orang-orang yang sudah bisa / mau melakukan sesuatu melebihi dari yang diwajibkan bahkan bisa melakukan sesuatu sampai ke level yang diharapkan. Anda tidak sekedar menjalankan apa yang wajib dan apa yang dilarang, melainkan sudah bisa dan mau memberikan sesuatu yang punya nilai plus bagi organisasi atau kantor. Anda tidak sekedar mencatat telepon keluar-masuk, melainkan sudah belajar meningkatkan kemampuan customer service, kemampuan berkomunikasi, dan seterusnya.
  3. Skala tinggi, adalah orang-orang yang sudah bisa menciptakan peluang dan sudah bisa mengantisipasi ancaman untuk jangka panjang. Biasanya, kalau dikaitkan dengan aturan manajemen, ini dimiliki oleh orang-orang yang sudah diberi tanggung jawab, kebebasan, dan kemandirian dalam mengambil keputusan, misalnya saja: kepala divisi, kepala cabang, kepala tim, manajer, direktur operasional, dan lain-lain.
Tulisan ini dipublikasikan di Inisiatif. Tandai permalink.