Pola Pikir Komprehensif, Apa Itu?

Komprehensif, salah satu hal yang seringkali menjadi pertanyaan. Arti komprehensif sendiri merupakan segala sesuatu yang sifatnya luas dan lengkap yeng meliputi berbagai aspek atau ruang lingkup yang luas.

Komprehensif sendiri merupakan memiliki wawasan yang luas akan sesuatu dan melihatnya dari berbagai aspek sehingga bisa memahami suatu permasalahn secara menyeluruh dan menyelesaikannya dengan baik.

Menurut KBBI, pengertian komprehensif adalah bersifat mampu menangkap dan menerima dengan baik, luas dan lengkap mengenai ruang lingkup atau isi, dan memiliki serta memperlihatkan wawasan yang luas.

Istilah komprehensif diambil dari bahasa Inggris, yaitu “Comprehensive” yang memiliki arti lengkap, luas, menyeluruhm teliti, dan meliputi banyak hal.

Pada dasarnya istilah ini digunakan untuk menyatakan kondisi dimana sesuatu dapat menjelaskan keterangan secara lengkap dan luas serta memberikan wawasan yang lebih.

Yuk Ketahui Pola Pikir Komprehensif Lebih Dalam

Istilah komprehensif cukup sering digunakan dalam berbagai bidang kehidupan, misalnya filsafat, akuntansi, kebidanan, dan lain sebagainya.

Komprehensif di beberapa bidang adalah sebagai berikut:

  • Komprehensif di Bidang Filsafat

Merupakan cara berpikir filsafat yang mengkaji segala sesuatu secara menyeluruh sehingga tak ada lagi bagian yang tersisa ataupun berada di luarnya.

  • Komprehensif di Bidang Kebidanan

Merupakan penanganan yang dilakukan secara berkesinambungan kepada bayi dan ibu sejak bayi tersebut dalam kandungan hingga dilahirkan.

  • Komprehensif di Bidang Akuntansi

Merupakan prinsip permbuatan laporan laba rugi dangan tujuan mengukur tingkat keberhasilan kinerja suatu perusahaan dalam periode tertentu.

Pola pikir yang perlu dimiliki oleh manusia adalah pola pikir komprehensif. Pengertian komprehensif sendiri menurut KBBI adalag luas meliputi banyak hal.

Pola pikir komprehensif adalah pola pikir yang terbuka, tak eksklusif (tertutup). Di dalamnya ada sikap menghargai pemikira orang lain dan mampu menampung kepelbagaian.

Pola pikir proaktif, kratif, dan positif  juga menjadi bagian dan pola pikir komprehensif sebagai suatu pola pikir yang utuh dan terbuka.

Jika dilihat hubungan antara 4 pola pikir tersebut diketahui bahwa pola pikir komprehensif terbentuk atas pola pikir proaktif, kreatif, dan positif.

Ketiga pola tersebut berkaitan erat. Positif dan kreatif mampu menciptakan proaktif. Sedangkan pola pikir kreatif mampu menimbulkan pola pikir positif.

Begitu juga sebaliknya, pola pikir positif akan menumbuhkan pola pikir kreatif, karena biasanya orang yang “positive thinking” akan mempunyai kehidupan yang menyenangkan. Keadaan ini dapat merangsang kreativitas seseorang.

Keempat pola pikir tersebut sangat bermanfaat bagi kehidupan seseorang jika dikembangkan.untuk kalian yang suka terlibat dalam sebuah organisasi sangat perlu sikap proaktif untuk menjalankan visi misi organisasi supaya bisa berjalan lancar.

Tanpa mau menjadi proaktif, seorang pemimpin tak akan bisa menjalankan kepemimpinan secara efektif dan efisien.

Sedangkan pola pikir kreatif sangat bermanfaat di bidang seni. Mereka yang suka mencoret-coret tembok di sembarang tempat perlu mengembangkan diri secara benar dan tepat.

Misalnya dengan masuk ke sanggar seni. Bagi mereka yang menyadari kebutuhan dan keberadaan orang lain, mereka perlu membangun sikap positif serta komprehensif.

Tanpa kedua sikap itu, manusia tak akan bisa menjalin relasi dengan sesamanya secara baik. Terlebih lagi, mereka yang memiliki perbedaan latar belakang sosial, suku bangsa, agama, dan perbedaa lainnya.

Itulah informasi lengkap mengenai pola pikir komprehensif yang harus kamu ketahui. Setelah mengetahui hal ini, apakah kalian memiliki pola pikir komprehensif? Atau kalian mau mengembangkannya?

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

Aliran Filsafat Yang Mempengaruhi Pola Pikir Kalian

Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu Philos atau Sophia. Philos berarti cinta, senang, suka. Sedangkan Sophia berarti pengetahuan, hikmak, dan kebijaksanaan. Sehingga philosophia berarti cinta pengetahuan.

Seiring berjalannya waktu, filsafat adalah kegiatan berpikir secara lebih mendalam terkait dengan pertanyaan-pertanyaan yang kerap kali muncul dalam kehidupan seperti untuk apa alam semesta diciptakan, apa tanggung jawab manusia terhadap tuhan, dan lain lain.

Filsafat Yang Mempengaruhi Pola Pikir

Filsafat sudah hadir sejak 2000 tahun yang lalu. Namun, dalam waktu selama itu filsafat belum bisa dan tak akan pernah bisa memberikan jawaban yang mutlak.

Filsafat hanya mampu memberikan jawaban yang rasional, sistematis, dan kritis. Filsuf-filsuf yang terkenal akan pemikiran besarnya antara lain Aristoteles, Plato, Jacques Derrida, Immanuel Kant. Dan Thomas Aquinas.

Setiap filsuf memiliki cara pandang yang berbeda. Karena itu filsafat sangat menarik untuk dipelajari.

1.Rasionalisme

Rasionalisme merupakan aliran filsafat yang berpegang teguh pada akal. Itulah sebabnya kaum rasionalis menganggap akal dan penemuan dapat diukur dengan akal juga.

Maksud dari dicari dengan akal adalah dengan menggunakan pemikiran yang logis, sementara maksud dari diukur dengan akal adalah menentukan apakah pertemuan tersebut dapat dikatakan logis atau tidak.

Jika logis dapat dipastikan benar, jika tidak logis maka sebaliknya.

2.Empirisme

Berbeda dengan rasionalisme yang hanya mengandalkan akal untuk menentukan kebenaran, emperisme memerlukan pembuktian secara indrawi untuk menentukannya.

Pembuktian secara indrawi yaitu dapat dilihat, didengar, dan dirasa. Menurut filsafat ini, pengetahuan bisa diperoleh melalui pengalaman dan perantaraan indera.

Kebenaran berdasarkan pengalaman berhasil membawa pengaruh terhadap bidang hukum dan hak asasi manusia.

3.Positivisme

Positivism adalah aliran filsafat yang bersifat factual. Artinya, menjadikan fakta-fakta sebagai dasar kebenaran. Pengetahuan tidak diperbolehkan membelakangi fakta.

Menurut aliran ini, satu-satunya pengetahuan adalah ilmu dan yang data dijadikan objek pengetahuan hanyalah fakta.

Positivism mendapatkan persetujuan untuk berupaya dalam membuat aturan bagi manusia dan alam.

4.Kritisisme

Kritisisme adalah aliran filsafat yang melakukan penyelidikan terhadap rasio beserta batasan-batasannya.

Kritisisme melakukan kritik terhadap rasionalime dan empirisme karena kedua aliran filsafat itu sangat berlawanan.

Untuk menentukan kebenaran, rasionalisme mengandalkan akal, sedangkan empirisme mengandalkan pengalaman.

5.Idealisme

Idealism merupakan aliran filsafat yang percaya bahwa sesuatu yang konkret hanyalah hasil pemikiran manusia.

Kaum idealis menyebutnya sebagai ide atau gagasan. Menurut idealism, ide atau gagasan adalah pengetahuan dan kebenaran tertinggi.

Untuk memahami sesuatu, idealism menggunakan metode dialektik, yaitu metode yang menggunakan dialog, pemikiran, dan perenungan.

6.Naturalisme

Naturalism adalah aliran filsafat dari hasil berlakunya hukum alam fisik. Menurut aliran naturalisme, setiap manusia yang lahir ke bumi membawa tujuan yang baik dan taka da seorang pun yang membawa tujuan buruk.

Layaknya setiap bayi yang terlahir dalam keadaan suci dan tuhan telah menganugerahkan berbagai potensi yang bisa berkembang secara alami kepadanya.

Kaum naturalis menyebut hal itu sebagai kodrat. Untuk mempertahankan kodrat tersebut, maka diperlukan adanya pendidikan.

7.Materialisme

Materialism adalah aliran filsafat yang mengikatkan materi sebagai segalanya. Karena itu, materialism menggunakan metafisika.

Jenis metafisika yang digunakan tentu saja metafisika materialism. Materialism menekankan bahwa faktor-faktir material memiliki keunggulan terhadap spiritual dalam fisiologi, efistemologi, penjelasan histori, dan sebagainya.

Menurut materialism, pikiran (roh, jiwa, dan kesadaran) merupakan materi yang bergerak.

Itulah 7 filsafat yang selama ini memperngaruhi pola pikir kita sebagai manusia.

Ditulis pada Pola Pikir | Tinggalkan komentar

Apa Ciri Dari Pola Pikir Mental Block?

Jika kita memiliki tekanan terhadap tugas atau pekerjaan hingga tak mampu menyelesaikannya, artinya kita mengalami kondisi yang bernama mental block.

Mental block bisa berupa hal-hal yang ringat sekalipun, seperti kehilangan konsentrasi, muncul keinginan untuk melakukan hal-hal lain, rasa lelah yang membuat kita ingin berhenti sejenak untuk beristirahat, dan apa pun yang membuat kita ingin menunda pekerjaan.

Hal ini termasuk berbagai masalah terkait psikologi, seperti anxiety (rasa khawatir berlebihan) dan depresi.

Jenis Kondisi Yang Merefleksikan Mental Block

Secara tidak langsung, mental block bukan hanya memperlambat pekerjaan namun juga potensi diri untuk berkembang.

Lama kelamaan, hidup akan terasa statis, tidak ada perubahan, dan perkembangan apa pun. Lalu, bagaimana  cara mengetahui bahwa kita sedang mengalami mental block atau tidak?

Ada 4 tipe mental block yang umumnya menimpa seseorang:

1.Tidak Percaya Diri Berlebihan

Rasa tidak percaya diri sudah menjadi masalah yang umum di masyarakat. Sudah banyak artikel-artikel, buku-buku, dan seminar-seminar yang membahas masalah ini.

Secara umum, gangguan percaya diri dimulai dengan rasa takut, seperti takut gagal dan takut membuat kesalahan.

Tidak percaya diri akan berujung pada rasa malu karena menganggap akan dinilai secara buruk dan takut menjadi cibiran orang lain.

Akhirnya, seseorang tidak berani memulai sesuatu yang baru. Kita pun jadi meragukan kemampuan diri sendiri dan akhirnya muncul perasaan yang keliru bahwa “saya tidak akan bisa” bahkan sebelum mencoba melakukannya.

2.Sulit Menentukan Skala Prioritas

Tidak menentukan hal yang prioritas adalah salah satu penghambat dalam proses pengembangan diri.

Hal ini dapat terlihat dari cara kita mengorbankan lebih banyak waktu untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting dan menelantarkan tugas atau kepentingan utama dalam hidup.

3.Kerap Membandingkan Kualitas Diri Sendiri Dengan Orang Lain

Kesuksesan orang lain bukanlah sebuah ancaman bagi kita. Nyatanya, jika orang lain bisa melakukan sesuatu yang lebih baik, bukan berarti kita sendiri tidak mampu atau tidak berharga.

Berhentilah melihat orang lain dan focus kepada diri sendiri. Jika orang lain bisa sukses, maka artinya semua orang, termasuk kita bisa meraih tingkat kesuksesan yang sama dan bahkan lebih baik lagi.

Alasannya sudah jelas, kita sama-sama manusia. Berhentilah membandingkan diri dengan orang lain. Dalam praktiknya, kebiasaan membanding-bandingkan diri dengan orang lain tidak akan berhenti pada satu momen.

Pada kelanjutannya, kita tentu akan menemukan orang lain yang lebih hebat lagi sehngga membuat kita makin rendah diri. Keadaan semacam ini berpotensi semakin menghambat pengembangan dalam diri.

4.Merasa Diri Bisa Melakukan Segala Hal

Ada beberapa orang yang berpikir “saya bisa melakukan segalanya. Saya pasti bisa jika berusaha keras.”

Memang benar bahwa kita bisa mencapai sesuatu sesuai keinginan kita, namun jika terlalu banyak hal yang dilakukan, maka pada akhirnya kita tidak akan bisa menjadi ahli dalam suatu hal.

Terlalu tinggi menilai kemampuan diri sendiri bisa menjadi boomerang yang merugikan.

Penyebab Utama Mental Block

Lalu, apa saja penyebab utama dari semua ini?

1.Pengalaman Pribadi

Mengalami kegagalan berisiko membuat kita menganggap diri ditakdirkan selalu gagal walaupun berjuang sekeras apapun.

Pada akhirnya, pikiran ini membuat kita kehilangan percaya diri. Sikap mental seperti ini jika dibiasakan dari kecil bisa menjadi sebuah mental block bagi kita.

2.Penilaian Orang Tua, Guru, Teman

Sejak kecil kita sering menghadapi berbagai konsep penilaian, baik dan buruk. Penilaian ini diberikan oleh orang tua, guru, dan teman-teman.

Mereka adalah pemeran utama yang memberikan penilaian itu kepada kita. Pada akhirnya dari penilaian itu terbentuk citra diri kita.

Itulah penjelasan lengkap mengenai mental block. Semoga artikel ini bermanfaat.

Ditulis pada Pola Pikir | Tinggalkan komentar

Apa Itu Inisiatif?

Inisiatif sangat penting dalam dunia pekerjaan. Organisasi ingin para pekerjanya bisa berpikir sendiri dan bisa mengambil aksi tanpa menunggu di perintahkan dulu.

Yuk Kembangkan Inisiatif Dalam Diri

Inisiatif adalah kemampuan untu memutuskan serta melakukan sesuatu dengan benar tanpa diberi tahu, mampu menemukan apa yang seharusnya dikerjakan terhadap sasuatu yang ada di sekitar, berusaha untuk terus bergerak untuk melakukan beberapa hal walau keadaan terasa semakin sulit.

Saat seorang inisiatior menemukan kesempatan dalam kesulitannya, kesempatan itu segera diambil dan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memecahkan hal-hal yang sedang ia pecahkan.

Bahkan dengan inisiatif yang tinggi seseorang mampu menemukan permasalahan dan kesulitan yang tersirat dan mampu juga memutuskan solusi lalu menyelesaikan permasalahan tersebut.

Berani berinisiatif sama dengan sikap proaktif, lawan dari proaktif adalah reaktif. Inisiatif merupakan sikap proaktif terhadap hal-hal yang berada di sekitar, untuk mengambil inisiatif kita harus mendahulukan aksi dibandingkan reaksi.

Kita harus melakukan suatu hal tanpa perlu diperintah terlebih dahulu. Dengan menjadi aktif dalam hidup, kita akan merasa lebih baik, rasa percaya diri kita akan naik, kita juga akan merasa bahwa diri kita berharga.

Berani mengambil inisiatif akan membantu kita terbebas dari rasa gelisah, khawatir, dan cemas. Semakin intens kita memasrahkan apa yang terjadi untuk terjadi saja, maka semakin besar kesempatan kita untuk khawatir, gelisah, dan cemas.

Sebaliknya, jika kita semakin intens dalam menyelesaikan hal-hal yang ada di sekitar kita dengan berani mengambil inisiatif, maka semakin tinggi pula tingkat kebahagiaan kita.

Banyak orang yang memandang bahwa inisiatif merupakan suattu hal yang abstrak. Bagi sebagian orang berinisiatif bagaikan memikirkan hal gaib yang sulit untuk divisualisasikan.

Contoh sederhananya, ketika seorang pemateri dalam diskusi lupa untuk membawa materi yang akan dipresentasikannya, atau tiba-tiba laptopnya rusak.

Jika pemateri itu minim inisiatif, ia hanya akan duduk kebingungan menunggu hal yang tidak pasti. Namun jika ia punya inisiatif ia akan memutuskan sesuatu yang membuat permasalahan ini terselesaikan.

Misalnya solusinya adalah menggunakan white board atau media lainnya, membangun kembali kerangka yang akan ia jelaskan dengan sekedar menuliskan key point nya, menguraikan materi secara jelas dan runtut.

Jika ia mampu memaparkan materi presentasi dengan mengagumkan juga dimengerti oleh peserta walaupun tanpa bantuan teknologi, ia justru akan mendapat nilai tambah.

Karena sebenarnya esensi dari sebuah presentasi adalah bagaimana seorang pemateri mampu memaparkan materi yang akan disampaikan, bukan teknologi yang akan digunakan untuk presentasi.

Dari contoh tersebut, kita bisa membedakan apa itu inisiatif. Inisiatif merupakan sesuatu yang realistis bagi orang yang memiliki skill berinisiatif dan merupakan sesuatu yang abstrak bagi orang yang minim inisiatif.

selain ada orang yang menganggap bahwa inisiatif adalah abstrak, ada juga orang yang tidak berani mengambil inisiatif, padahal sebenarnya ia mampu berinisiatif.

Mungkin penyebabnya karena takut salah, takut dicemooh oleh orang, takut dikritik, malas, atau ragu dengan inisiatifnya sendiri.

Jika kalian takut untuk berinisiatif, ingatlah bahwa sebenarnya yang perlu untuk ditakuti adalah tindak berani mencoba.

Individu yang melakukan hal besar biasanya diawali dengan inisiatif dan berani mencoba. Banyak para penemu yang dalam perjalanannya harus gagal berkali-kali namun tetap mencoba hingga sukses dalam usahanya.

Maka, lawanlah rasa takut untuk berinisiatif. Jangan mengharapkan seluruh dunia ini suka dengan anda, dalam hidup selalu ada pro dan kontra, karena dari setiap kepala, terdapat otak yang berbeda.

Ditulis pada Inisiatif | Tinggalkan komentar

Pola Pikir Orang Jerman Yang Harus Kita Tiru

Tinggal di Jerman atau di belahan bumi manapun yang budaya serta adat istiadatnya bertolak belakang, pasti menyulitkan kita untuk beradaptasi.

Se easy going apapun kita, jika sudah ditempatkan di lingkungan yang kebanyakan orangnya tidak easy going, kita lama-lama terpengaruh juga, begitupun sebaliknya.

Hal ini dikarenakan salah satu sifat manusia adalah cenderung beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya agar mereka bisa bertahan hidup, kalau tidak bisa, mereka punya pilihan, tersingkir dari komunitas, pindah dari komunitas dan mencari komunitas yang cocok, kalau ia orang yang berpengaruh, ia bisa merubah komunitas yang telah terbentuk.

Pola Pikir Orang Jerman Yang Patut Kita Contoh

Namun, ada banyak hal yang berubah jika kalian sudah pernah tinggal di Jerman. Dari segi kebiasaan, pola pikir, pandangan hidup, dan sebagainya.

Dari banyak hal itu, dibawah ini ada beberapa pola pikir orang Jerman yang sangat berbeda dengan kita.

1.Manajemen Waktu

Orang Jerman sangat akurat dengan ketepatan waktunya. Merea sangat menghargai waktu. Bagi mereka, waktu adalah uang. Waktu untuk mereka sendiri, maupun waktu untuk orang lain.

Beda dengan orang Indonesia yang biasa bergaul dengan orang Jerman, tinggal, atau bekerja dengan orang Jerman, bisa dipastikan ketepatan waktunya nihil.

Masalah spontanitas, orang Jerman merupakan orang yang paling susah untuk di ajak dadakan. Semua harus serba tepatm terorganisir, dan tidak bisa mendadak.

2.Peduli Sampah

Di Jerman, banyak sekali warga pendatang yang juga usil membuang sampah sembarangan. Namun, kalau orang Jerman asli, kalian sudah pasti diteriakki.

Di Jerman, jangankan di taman, jalan, di manapun tiap 10 meter kalian pasti bisa menemukan tempat sampah.

Di kereta api, di setiap tempat duduknya pasti ada kotak sampah sehingga memudahkan orang untuk membuang sampah.

Iklan-iklan layanan masyarakat pun digencarkan agar menggerakkan hati masyarakat akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya.

3.Cinta Lingkungan Hidup

Kepedulian terhadap sampah dan lingkungan hidup juga menjadi dampak bagi orang Indonesia yang tinggal di Jerman.

Orang Jerman gencar sekali menggalakkan kampanye untuk melindungi hutan dan hewan-hewan di dalamnya. Termasuk hutan di Kalimantan dan Sumatera.

Penataan kota di Jerman juga tak luput dari keseimbangan estetika dan alam, sehingga walaupun kota se metropolitan Minchen menjadi kota terbesar nomor 3 di Jerman, banyak dibangun gedung-gedung modern, namun keseimbangan alam itu masih tetap terjaga dengan eksisnya 375 hektar taman yang terletak di tengah koya dan merupakan taman raya terbesar di Eropa.

4.Menjaga Prvasi Orang Lain

Orang Jerman terdirik sejak dini untuk menjaga provasi dan milik orang lain. Bahkan, seorang kakak atau adik yang masih belia, jika mereka ingin sendiri atau tidak mau bermain dengan saudara lainnya, mereka akan dihargai privasinya tanpa di cap jelek atau dibicarakan dibekalang apalagi dijauhi.

Orang Jerman sadar betul bahwa masing-masing individu punya hak atas dirinya sendiri.

5.Logis

Orang Jerman selalu berpikir kritis dan logis. Karena itu, banyak orang yang tinggal di Jerman jadi ikut terpengaruh oleh cara pikir mereka yang satu ini.

Mereka jadi mengait-ngaitkan sesuatu atau berita dari tingkat kelogisannya. Jika di Indonesia, kita biasa mendapat berita hoax dan ditelan mentah-mentah lalu percaya begitu saja, tidak demikian dengan Jerman.

Itulah beberapa perbedaan pola pikir masyarakat Jerman dan Indonesia yang bisa kita tiru agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

Ditulis pada Pola Pikir | Tinggalkan komentar

Mental Gratisan: Minta Mulu Gak Pernah Memberi

 “Eh, kemaren lo abis ultah ya? Traktiran dooong!” “Mana nih pajak jadiannya? Ga kasih PJ (pajak jadian) nanti ga langgeng, lho!” Coba ngaku siapa yang pernah ngeliat kejadian kaya gitu? Atau kalian sendiri yang ngalami?

Generasi zaman sekarang memang sangat memprihatinkan. Masih muda tapi apa-apa sudah di “pajak”-in. seakan-akan kita butuh banget dikash barang gratis.

Memang sih, siapa sih yang gak suka gratisan? Gak perlu keluar effort, yang diinginkan udah tersedia. Tinggal minta aja, mau pake cara “kode minta dikasih”, atau cara “frontal” dengan agak-agak maksa. Yang penting gratis!

Beda cerita kalau kalian memang pure diberi dan orang yang memberi memang tulus memberi sesuatu ke kita.

Mental Gratisan Kok Dipelihara?

Mental ingin diberi dan bukan memberi memang sudah jadi booming di masyarakat kita. Tua, muda, sama saja.

Padahal logikanya, orang yang memberi, artinya punya sesuatu “lebih” yang bisa dibagikan dan bermanfaat bagi orang lain. Sedangkan orang yang diberi, akan merasakan senangnya diberi.

Kemudian perasaan nagih “mau dong diberi lagi” akan selalu muncul di kemudian hari. Bahasa umumnya adalah berharap atau ngarep. Parahnya, si pelaku ingin diberi dan bukan memberi ini biasanya ga sadar sama pola pikirnya yang salah!

Kenapa pola pikir seperti ini banyak dialami oleh masyarakat kita? Jawabannya ada pada habitat atau kebiasaan. “Kenapa harus bayar kalau ada yang gratis?” ini seakan-akan udah jadi budaya.

Pikiran yang dangkal, suka ngarep, dan mental gratisan ini bakal jadi penghambat kalian buat nyelesein masalah.

Kalian tidak akan bisa memberi solusi karena pengennya ngeluarin effort sedikit mungkin, kalau perlu malah gak usah ngeluarin effort sama sekali.

Otak rasanya gak bisa berpikir kritis dan endingnya malah gampang nyerah. Jika pola pikir ini sering ditanamkan di otak, bisa bahaya. Apalagi jika sudah menjadi kebiasaan, jangan harap bisa menjadi orang yang berhasil deh.

Embel-embel temen biasanya menjadi jurus paling sakti untuk mendapat gratisan. Entah jasa, barang, atau hal lain yang tak berwujud. Yang menjadi isu di sini adalah sengaja pelihara mental gratisan.

Ketemu teman langsung ditodong minta traktiran. Bersua sama teman yang buka kedai kopi buru-buru minta voucher biar bisa minum kopi gratis.

Sadarkah kalian jika memelihara mental seperti ini dengan sendirinya akan menghancurkan apresiasi atas pencapaian orang lain? Kemudian, akan membawa karma bagi diri sendiri di hari esok.

Peraya deh, mentalitas serba minta gratisan itu gak akan membuat hidup lebih barokah. Jelas gak barokah karena selalu nuntut gratisan. Begitu disuruh bayar pasti langsung negative reaksinya.

Buntunya, punya mental gratisan bisa merusak alam bawah sadar. Karena dorongan alam bawah sadar it mempengaruhi tindakan “menghancurkan” rasa penghargaan kepada karya atau usaha orang lain.

Padahal, semua itu dibuat dengan susah payah plus pengorbanan. Coba ditelaah dulu perjuangan panjang yang telah dilewati seorang kawan dalam merintis bisnis.

Pasti semua itu gak terpikirkan karena adanya mental gratisan. Hargailah usahanya. Jika emang lagi bokek, lebih baik tahan diri untuk tak meminta.

Di saat bersamaan, mulailah latih alam bawah sadar dengan pandangan yang baru. Pasang mantra baru berbunyi “Saya hidup berkelimpahan dan saya sanggup bayar!” Pola pikir ini tak sekedar mengusir mental gratisan tapi juga membantu kelangsungan bisnis mereka.

Bagaimana jika diberi? Beda cerita. Ketika ia memberi sesuatu pasti ada motif di belakangnya. Macam-macam motifnya. Entah karena kita dianggap istimewa, atau memang ingin berbagi. Terimalah pemberiannya karena itu membuat mereka senang.

 Jadi, gimana pola pikir kalian?

Ditulis pada Pola Pikir | Tinggalkan komentar

Pola Pikir Orang Barat Yang Bisa Kita Tiru

Pada kenyataannya, memang dunia barat jauh lebih maju dibanding kita di bagian Timur, khususnya Indonesia. Dari segi infrastruktur dan sumber daya manusianya, mereka memang jauh lebih unggul.

Apalagi jika  soal kualitas hidup masyarakatnya. Sampai sekarang mereka lebih maju dari kita yang menandakan bahwa sumber daya manusia (SDM) yang mereka miliki memang mumpuni dan memiliki jiwa profesionalisme kerja dengan kualitas kerja di atas rata-rata.

Berikut ini merupakan beberapa pola pikir orang barat yang sepatutnya bisa kalian tiru.

Pola Pikir Orang Barat Yang Jauh Berbeda Dengan Timur

Pernah gak sih kalian bingung saat melihat tingkah wisatawan asing yang datang ke Indonesia apalagi para bule yang suka jalan sendirian.

Masalah ini mungkin mengherankan bagi kita, namun tidak dengan mereka. Justru itu merupakan hal yang biasa pada diri mereka. Masalahnya hanya terletak pada perbedaan pola pikir antara kita dengan orang Barat tersebut.

1.Tepat Waktu

Kebiasaan ini sudah menjadi rahasia umum. Dengan kemajuan yang ada di negara mereka, tak heran jika setiap masyarakatnya dituntut untuk memiliki manajemen waktu yang baik.

Dengan menandakan waktu adalah hal yang berharga, mereka pun memiliki semboyan “Time is Money”

2.Kebiasaan Tidak Buang Sampah Sembarangan

Kita bisa melihat dari wisatawan asing yang datang ke Indonesia. Kebiasaan atau peraturan di negara mereka tentang larangan membuang sampah sembarangan sudah menjadi sebuah kebiasaan.

Sehingga, saat mengunjungi negara kita ini, mereka bisa tetap membawa kebiasaan tersebut.

3.Mampu Bersikap Mandiri

Orang Barat punya sikap mandiri yang tidak main-main. Banyak dari mereka yang masih sekolah atau kuliah namun bisa mengambil kerja paruh waktu atau part time.

Ketika usianya 20an mereka juga sudah mandiri dan bekerja hanya untuk biaya sekolah atau kuliah dan tempat tinggal.

Banyak dari mereka di usia ke 20 tahunan sudah memilih untuk hidup sendiri dan tak lagi bergantung pada orang tua mereka.

4.Kebiasaan Antre

Orang Barat sangat teratur jika dibandingkan dengan kita. Taat pada aturan masih sulit untuk kita lakukan. Apalagi soal antre. Sudah diberikan peringatan besar-besar saja masih tidak bisa membaca.

5.Terus Terang

Pola pikir satu ini juga cukup menarik. Mereka orang Barat memang tidak suka bertele-tele. Mereka lebih memilih untuk berterus terang atas apa yang mereka pikirkan dan rasakan.

6.Membaca

Salah satu yang membuat orangt Barat punya wawasan serta pemikiran luas dan terbuka adalah karena mereka memiliki kebiasaan membaca.

Ini juga menandakan bahwa mereka adalah orang-orang yang selalu mau belajar. Saat di kereta atu di tempat manapun mereka akan menggunakan waktu luang yang dimiliki untuk diisi dengan membaca.

Hal ini juga yang membuat mereka memiliki pemikiran-pemikiran yang kritis dan pintar.

7.Disiplin

Berusaha tepat waktu dan mengambil kerja paruh waktu merupakan salah satu cara mereka melatih diri.

Kehidupan mereka menuntut untuk disiplin dalam banyak hal, apalagi dalam pekerjaan dan pendidikan.

Mereka juga memiliki sikap yang serius dan terlihat tegas. Tak heran kalau banyak ilmuan hebat yang berasal dari negara mereka terkenal.

Karena disiplin lah kuncinya. Apalagi banyak dari mereka yang masih muda datang ke Indonesia untuk penelitian sampai berbulan-bulan hanya seorang diri.

8.Pantang Menyerah

Orang Barat sangat suka menantang diri mereka. Jadi, jangan heran jika banyak dari mereka yang punya hobi travelling apalagi pergi seorang diri saat masih muda.

Mereka juga terlatih untuk hidup di bawah tekanan. Persaingan du dunia kerja dan pendidikan membuat mereka terbiasa dengan kondisi dan situasi yang sulit.

Itulah beberapa sikap dan pola pikir orang barat yang sepatutnya kita tiru.

Ditulis pada Pola Pikir | Tinggalkan komentar